Jumat, 27 April 2012

Senyuman


Entah kenapa tiba-tiba wajahnya terlintas kembali dipikiranku. Iya, aku masih ingat sekalinya rasanya.  Senang, resah, dan gundah bercampuk aduk ketika 3 tahun lalu berjumpa dirinya. Pertemuan itu benar-benar berawal dari sesuatu yang tidak sengaja. Kamu percaya kan dengan keajaiban atau kebetulan?

Aku sedang sibuk mencari buku yang kusimpan di dalam tasku di ruang tunggu, tiba-tiba dahan pintu kayu bewarna coklat itu terbuka pelan dan aku mendengar suara yang sepertinya tertuju kepadaku, “titip adik aku, ya”. Mataku langsung tersentak penasaran dengan sosok yang ada dibalik pintu. Hm… Wanita, tembem pula. Ia berdiri dengan sedikit membungkuk (atau memang kebiasaan?) ditambah senyuman yang begitu manis. Tidak sengaja pula ketika dirinya menengadah, kepalanya ke atas dan matanya tepat tertuju padaku. Aku langsung membalasnya dengan senyum. Dia pun langsung membalas senyumku. 

Pertemuan selanjutnya tidak seperti anak muda lainnya, yang langsung mendekati objek, minta nomor HP, kenalan, dan usaha apapun lainnya. Entah apa yang membuat kakiku terasa terpaku di lantai. Aku hanya tetap fokus berdiri dan segera bergegas masuk ke bus karena sudah siap berangkat ke Puncak. Oh iya, aku belum cerita sebelumnya, siang ini kami mau bertamasya ke Puncak.

Selama di perjalanan menuju Puncak, kami tidak saling sapa satu sama lain. Maklumlah, aku orangnya memang agak pasif kalau awal bertemu dengan wanita. Eit tunggu dulu, sebenarnya ada sesuatu yang cukup membekas di hatiku pada malam itu. Aku melihatnya diam-diam dari kursiku. Sungguh aku kagum dengan kepercayaan dirinya ketika dia ikutan beberapa games di dalam bis. Mungkin saja karena dia sudah mulai akrab dengan peserta lainnya. Senyum kamu yang manis pun bisa aku rasakan, sampai pada akhirnya aku tertidur tidak mengikuti games dan terbangun ketika bis sudah mulai mendekat dengan lokasi penginapan :hammer:. Ketika terbangun pun aku agak kaget karena kamu menghampiri aku. Padahal tempat duduk kamu dekat sama pintu depan, sedangkan aku duduknya di belakang dekat pintu belakang. Suara kamu yang berkata, “Enak nih tidurnya, nyenyak banget. Aku duluan, ya,” sungguh membuat aku semangat untuk bangun dan segera mengumpulkan nyawa untuk turun dari bus.

Puncak dan malam yang dingin, jadi paket yang pas rasanya untuk memeluk kekasih atau yang disayang. Entahlah, hanya itu yang terlintas di pikiran aku saat itu. Tapi tentu saja semua hanya angan-angan, karena aku toh masih berstatus jomblo saat itu.

Pertemuanku denganmu pun berlanjut ketika malam itu ada acara dan dipikir-pikir, entah aku yang hoki atau kegeeran, kamu memilih duduk di samping aku. Kamu tersenyum ke arahku dan aku pun menatapmu dengan senyum termanis yang aku punya. Hei! Namanya juga usaha, bukan?

“Hai, aku Gina. Udah bangun kan malam ini? Hahaha. Nama kamu siapa?” dia mengulurkan tangannya yang dingin ke arahku.

Perasaan saat itu sungguh bercamuk-camuk di hati aku. Ah tangan ini serasa mati tak berdaya untuk merespon tangan kamu secepat mungkin. Aha! Inikah namanya cinta? Tapi aku langsung melupakan kemungkinan itu karena posisi aku saat ini sedang mencoba fokus untuk Ujian Nasional yang beberapa bulan lagi bakal aku hadapi. Tangan aku akhirnya merespon tangannya dan tidak lupa mengucapkan nama aku secepatnya.

“Aku Josep”.

Setelah acara malam itu, kami berdua langsung akrab dan mencoba saling bertukar cerita tentang kehidupan kami masing-masing. Kami berdua berjalan menuju taman, duduk di bawah bintang-bintang yang kebetulan sedang menemani kami, dan tidak lupa, jagung bakar yang menemani perbincangan kami saat itu. Ah, romantis sekali rasanya jika mengingat masa-masa itu. Senyumnya yang manis benar-benar tidak bisa membuat aku ngantuk, walaupun jam di HP sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku pun langsung mengingatkan dirinya untuk masuk ke kamar karena sudah saatnya istirahat.

Waktu berputar dengan cepat sampai pada akhirnya api unggun di malam kedua. Panitia mengadakan permainan di acara malam api unggun tersebut, tidak lain yaitu acara seperti perkenalan satu sama lain dan peserta harus berpasang-pasangan. Entah kebetulan atau tidak, kamu memilih duduk disebelah aku. Padahal masih banyak tempat yang kosong disisi lainnya. Tahap games pun dimulai dan semua nama diundi untuk dijadikan pasangan. Nampaknya malam itu memang milik kita berdua. Kami pun ternyata menjadi pasanganku di games tersebut. Hatiku pun berdetak dengan kencang serasa tidak mau berhenti. Kamu pun langsung tersenyum kepadaku. Sungguh, aku mau terjun rasanya ke kolam renang menyadarkan aku kalau ini sebenarnya cuma mimpi saja.

Sampai acara tengah malam pun kamu tetap setia berada di samping aku. Pundak aku pun secara spontan kamu jadikan tempat kepala kamu untuk istirahat sejenak. Tanganku pun latah untuk mengelus-ngelus kepala kamu sambil berbisik pelan ditelingamu agar segera pindah ke kamar saja biar kamu bisa tidur pulas. Tapi kamu tetap ingin berada di pundak aku saja. Iya, berdua. Denganku. Malam itu sungguh menjadi malam kenangan buat aku seumur hidup. Walaupun kita belum mengucapkan kata cinta satu sama lain tapi tindak tanduk kita satu sama lain seperti orang yang sedang dimabuk asmara. Terima kasih buat kamu yang sudah mempercayakan pundakku sebagai tempat istirahat kamu ya ;). 14-15 September 2007.

1 komentar: