Entah kenapa tiba-tiba wajahnya
terlintas kembali dipikiranku. Iya, aku masih ingat sekalinya rasanya. Senang, resah, dan gundah bercampuk aduk
ketika 3 tahun lalu berjumpa dirinya. Pertemuan itu benar-benar berawal dari
sesuatu yang tidak sengaja. Kamu percaya kan dengan keajaiban atau kebetulan?
Aku sedang sibuk mencari buku
yang kusimpan di dalam tasku di ruang tunggu, tiba-tiba dahan pintu kayu
bewarna coklat itu terbuka pelan dan aku mendengar suara yang sepertinya
tertuju kepadaku, “titip adik aku, ya”. Mataku langsung tersentak penasaran
dengan sosok yang ada dibalik pintu. Hm… Wanita, tembem pula. Ia berdiri dengan
sedikit membungkuk (atau memang kebiasaan?) ditambah senyuman yang begitu
manis. Tidak sengaja pula ketika dirinya menengadah, kepalanya ke atas dan
matanya tepat tertuju padaku. Aku langsung membalasnya dengan senyum. Dia pun
langsung membalas senyumku.
Pertemuan selanjutnya tidak
seperti anak muda lainnya, yang langsung mendekati objek, minta nomor HP,
kenalan, dan usaha apapun lainnya. Entah apa yang membuat kakiku terasa terpaku
di lantai. Aku hanya tetap fokus berdiri dan segera bergegas masuk ke bus
karena sudah siap berangkat ke Puncak. Oh iya, aku belum cerita sebelumnya,
siang ini kami mau bertamasya ke Puncak.
Selama di perjalanan menuju
Puncak, kami tidak saling sapa satu sama lain. Maklumlah, aku orangnya memang
agak pasif kalau awal bertemu dengan wanita. Eit tunggu dulu, sebenarnya ada
sesuatu yang cukup membekas di hatiku pada malam itu. Aku melihatnya diam-diam
dari kursiku. Sungguh aku kagum dengan kepercayaan dirinya ketika dia ikutan
beberapa games di dalam bis. Mungkin saja karena dia sudah mulai akrab dengan
peserta lainnya. Senyum kamu yang manis pun bisa aku rasakan, sampai pada
akhirnya aku tertidur tidak mengikuti games dan terbangun ketika bis sudah
mulai mendekat dengan lokasi penginapan :hammer:. Ketika terbangun pun aku agak
kaget karena kamu menghampiri aku. Padahal tempat duduk kamu dekat sama pintu
depan, sedangkan aku duduknya di belakang dekat pintu belakang. Suara kamu yang
berkata, “Enak nih tidurnya, nyenyak banget. Aku duluan, ya,” sungguh membuat
aku semangat untuk bangun dan segera mengumpulkan nyawa untuk turun dari bus.
Puncak dan malam yang dingin,
jadi paket yang pas rasanya untuk memeluk kekasih atau yang disayang. Entahlah,
hanya itu yang terlintas di pikiran aku saat itu. Tapi tentu saja semua hanya
angan-angan, karena aku toh masih berstatus jomblo saat itu.
Pertemuanku denganmu pun
berlanjut ketika malam itu ada acara dan dipikir-pikir, entah aku yang hoki
atau kegeeran, kamu memilih duduk di samping aku. Kamu tersenyum ke arahku dan
aku pun menatapmu dengan senyum termanis yang aku punya. Hei! Namanya juga
usaha, bukan?
“Hai, aku Gina. Udah bangun kan
malam ini? Hahaha. Nama kamu siapa?” dia mengulurkan tangannya yang dingin ke
arahku.
Perasaan saat itu sungguh
bercamuk-camuk di hati aku. Ah tangan ini serasa mati tak berdaya untuk
merespon tangan kamu secepat mungkin. Aha! Inikah namanya cinta? Tapi aku
langsung melupakan kemungkinan itu karena posisi aku saat ini sedang mencoba
fokus untuk Ujian Nasional yang beberapa bulan lagi bakal aku hadapi. Tangan
aku akhirnya merespon tangannya dan tidak lupa mengucapkan nama aku secepatnya.
“Aku Josep”.
Setelah acara malam itu, kami
berdua langsung akrab dan mencoba saling bertukar cerita tentang kehidupan kami
masing-masing. Kami berdua berjalan menuju taman, duduk di bawah
bintang-bintang yang kebetulan sedang menemani kami, dan tidak lupa, jagung
bakar yang menemani perbincangan kami saat itu. Ah, romantis sekali rasanya
jika mengingat masa-masa itu. Senyumnya yang manis benar-benar tidak bisa
membuat aku ngantuk, walaupun jam di HP sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Aku pun
langsung mengingatkan dirinya untuk masuk ke kamar karena sudah saatnya istirahat.
Waktu berputar dengan cepat
sampai pada akhirnya api unggun di malam kedua. Panitia mengadakan permainan di
acara malam api unggun tersebut, tidak lain yaitu acara seperti perkenalan satu
sama lain dan peserta harus berpasang-pasangan. Entah kebetulan atau tidak,
kamu memilih duduk disebelah aku. Padahal masih banyak tempat yang kosong
disisi lainnya. Tahap games pun dimulai dan semua nama diundi untuk dijadikan
pasangan. Nampaknya malam itu memang milik kita berdua. Kami pun ternyata
menjadi pasanganku di games tersebut. Hatiku pun berdetak dengan kencang serasa
tidak mau berhenti. Kamu pun langsung tersenyum kepadaku. Sungguh, aku mau
terjun rasanya ke kolam renang menyadarkan aku kalau ini sebenarnya cuma mimpi
saja.
Sampai acara tengah malam pun kamu
tetap setia berada di samping aku. Pundak aku pun secara spontan kamu jadikan
tempat kepala kamu untuk istirahat sejenak. Tanganku pun latah untuk
mengelus-ngelus kepala kamu sambil berbisik pelan ditelingamu agar segera
pindah ke kamar saja biar kamu bisa tidur pulas. Tapi kamu tetap ingin berada
di pundak aku saja. Iya, berdua. Denganku. Malam itu sungguh menjadi malam
kenangan buat aku seumur hidup. Walaupun kita belum mengucapkan kata cinta satu
sama lain tapi tindak tanduk kita satu sama lain seperti orang yang sedang
dimabuk asmara. Terima kasih buat kamu yang sudah mempercayakan pundakku
sebagai tempat istirahat kamu ya ;). 14-15 September 2007.
Uhuy..!! Pas hari ultahku tuh!! *halah* XD
BalasHapus