Walaupun terik siang hari menyengat kulitku, namun untuk bertemu denganmu bukan alasan bagiku.
Waktu menunjukkan pukul jam 12. Sinar terik matahari begitu menyengat kulitku ini. Kira-kira 3 kaos sudah aku ganti karena cuaca yang begitu panas. Tiba-tiba, aku teringat dengan janji dengan seseorang di suatu tempat jam 2 nanti. Rasa deg-degan yang aku rasakan, maklum baru pertama kali mau bertemu dengan orang ini. Jadi, aku janjian sama orang ini sekitar 2 hari lalu. Awalnya kita bertemu lewat dunia maya gitu. Dari chatting, kita sedikit saling kenal satu sama lain. Anaknya lucu sih kalau dilihat dari avatarnya. Dari kata-kata pas chatting juga cukup enak diajak ngomong gitu. Makanya aku gak nolak ajakkan dia untuk ketemuan siang ini.
Waktu menunjukkan pukul jam 12. Sinar terik matahari begitu menyengat kulitku ini. Kira-kira 3 kaos sudah aku ganti karena cuaca yang begitu panas. Tiba-tiba, aku teringat dengan janji dengan seseorang di suatu tempat jam 2 nanti. Rasa deg-degan yang aku rasakan, maklum baru pertama kali mau bertemu dengan orang ini. Jadi, aku janjian sama orang ini sekitar 2 hari lalu. Awalnya kita bertemu lewat dunia maya gitu. Dari chatting, kita sedikit saling kenal satu sama lain. Anaknya lucu sih kalau dilihat dari avatarnya. Dari kata-kata pas chatting juga cukup enak diajak ngomong gitu. Makanya aku gak nolak ajakkan dia untuk ketemuan siang ini.
Segera aku langkahkan kaki ini
untuk siap-siap biar tidak terlambat. Sekitar 30 menit aku siap-siap dan tidak
lupa aku meletakkan kartu namaku yang asli, karena aku menggunakkan nama palsu
ketika berkenalan dengan dirinya. Ketika semua sudah siap tidak lupa aku member
kode kepada dirinya denga SMS.
“Aku sudah jalan ya, 1 jam lagi
aku sampai kalau tidak macet. :)”
“Oke, aku tunggu ya. Nanti aku kasih petunjuk
lagi kalau kamu nyasar”
“Siap ;’)”
Mataku sedikit tertunduk karena
sinar matahari yang begitu terik di siang hari itu. Langkahku semakin mantap
ketika bus kopaja yang lewat dengan cepat. Konon kabarnya sih, kopaja yang
kutumpangi sekarang, kalau siang selalu lama datangnya. Beruntung sih busnya
datang cepat, tapi gak beruntung ketika tahu situasi didalam kopaja yang begitu
ramai. Adu sikut menyikut dan saling beradu menyebar bau aroma tubuh yang apek
menemani perjalananku siang itu. Tiba-tiba getaran aku rasakan dari saku
celana, eh ternyata dia SMS aku.
“Kamu sudah dimana?”
“Masih otw nih. Btw alamatnya
dimana?”
“Oke, sip. Nanti aku sms lagi ya”
Beberapa lama kemudian SMS dari
dia datang lagi.
“Kamu kalau bisa on time ya jam 2
soalnya aku mau meeting jam 4 sama klient aku lagi”
“Aku usahakan ya, semoga gak
macet nih”
“Ini petunjuknya, kamu ke suatu
tempat dimana letaknya dekat pom bensin dan di seberangnya ada 2 tempat
nongkrong anak muda yang terkenal. Nah aku sekitar 50 meter dari tempat
tersebut. Gedung tinggi kira-kira 20 lantai”.
Dalam hatiku: “Duh ribet amat
petunjuknya ya :|”
“Oke siap semoga aku gak nyasar
ya..”
Dari petunjuk kira-kira gak lama
sih bakal nyampe. Tapi karena macet jadinya lama amat. Di kopaja ada seorang
ibu yang resek pula, dipikir dia gue nyenggol badannya karena gatel padahal
situasinya memang goyang-goyang jalanannya kok. Dalam hati pengen sih turun
dari kopaja, terus naik ojek yang tidak jauh pangkalannya. Tapi kayaknya mahal
deh walaupun jarak gak jauh, maklumlah kawasan “sok elit” tempat yang sedang
aku lewati siang ini #halah.
Setelah memakan waktu perjalanan sekitar hampir 1 jam dan ditemani bau-bau apek plus goncangan setir dadakan dari pak supir kopaja, akhirnya aku sampai juga di tempat tujuan. Tidak lupa aku membuka HP untuk melihat kembali petunjuk yang diberikan dia kepadaku. Aku langsung memberi tahu dia kalau sudah sampai di tempat yang dia kasih petunjuk.
Setelah memakan waktu perjalanan sekitar hampir 1 jam dan ditemani bau-bau apek plus goncangan setir dadakan dari pak supir kopaja, akhirnya aku sampai juga di tempat tujuan. Tidak lupa aku membuka HP untuk melihat kembali petunjuk yang diberikan dia kepadaku. Aku langsung memberi tahu dia kalau sudah sampai di tempat yang dia kasih petunjuk.
“Aku sudah sampai nih. Aku kemana
lagi?”
“Aku tunggu kamu di kamar 069”
Sejenak aku terdiam. Jantung
bertedak begitu kencang ketika mendapat balasan pesan singkat seperti itu.
Sambil mengambil handuk kecil dari tas selempang yang aku bawa, secepatnya aku
mengelap keringat yang bercucuran tiada henti. Kemudian, aku melangkahkan kaki
menuju tempat terakhir, dengan penuh keyakinan dan hati yang ikhlas.
Arrgghhh, paling sebel sama cerita nggantung gini..!! Hahahaa.. Jadi penasaran, ini pengalaman beneran apa fiktif yak? XD
BalasHapus